Hubungi Kami: [+62] 812-2043-4308 - Email : gogreentradingsystem@gmail.com
+6281220434308 target='_blank'>

Click to CALL us( Mobile Only )

Click to WHATSAPP us( Mobile Only )

;blank'>

Click to SMS us( Mobile Only )

Curahan Hati Seorang Member




Kenal GGTS sudah beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2015-an. Waktu itu, bersama teman-teman seperjuangan, kami menggagas majalah forex online. Rencananya GGTS dan ownernya akan menjadi nara sumber untuk profil trader edisi ketiga, dan saya yang ditugasi mewawancarai beliau.
Sebelum sesi wawancara, saya stalking FB nya dulu dong. Duh, sepertinya orangnya tidak begitu ramah. Baca cara beliau membalas komen-komennya sadis banget cuy. To the point nggak ada manis-manisnya blas. Jutek, begitu kesimpulan saya. Ditambah foto profilnya yang robot botak dengan mata mengeluarkan sinar, visual ini semakin menegaskan kesan beliau yang serem. Sempet keder saya, hahaha… (Ini saya berani tertawa, setelah membuktikan sendiri, imajinasi saya dengan real personnya. Ternyata JAUH!)
Singkat cerita, wawancara itu batal saya lakukan, karena edisi ketiga dan edisi-edisi selanjutnya nggak pernah bisa terbit lagi a.k.a bubar. Sayang sebenarnya, saat kunjungan web mulai ramai, kami tidak bisa mengikat teman-teman dengan kerja sukarela sementara masing-masing kami punya kesibukan dan pekerjaan di real life.
Entah kebetulan saja atau memang era-nya sudah memudar, bersamaan senyapnya grup majalah, grup terakhir dari kalangan teman-teman forex yang saya eksis di dalamnya, senyap pula grup-grup forex yang lain. Teman-teman forex pelan-pelan mulai menyusut kemudian menghilang dari beranda FB. Hanya beberapa akun saja yang masih bersliweran di beranda, akun Pak Aep (owner GGTS) ini salah satunya.
Dari sekian postingan beliau, topik EA menarik perhatian saya. Membaca dan mendengar beberapa artikel dan review tentang EA, sepertinya teknik trading ini cocok untuk saya. Trading tanpa melibatkan emosi, campur tangan kita, dan tidak harus stanby di depan chart. Setelah pantauan beberapa waktu, akhirnya saya tergerak join komunitasnya. Waktu itu, syarat join (hanya) harus membeli buku seharga 100-200ribu (lupa). Mahal sih kalau dilihat dari fisik bukunya. Tipis dan kualitas tinta cetaknya juga nggak bisa dibilang bagus, buku saya mbleber ketetesan air. Tapi saya tahu buku semacam ini yang mahal itu “isi”nya. Di luaran, untuk membeli ‘isi’ seperti itu dibutuhkan dana puluhan bahkan ratusan dollar.
Setelah membeli buku, saya di invite ke grup komunitas. Ternyata, untuk trading dengan EA, dibutuhkan modal tidak sedikit. Minimal, lima kali lipat modal minimum yang kita gunakan saat trading manual. Saya harus menabung dulu untuk bisa mulai trading. Karena belum akan trading dalam waktu dekat, saya menjadi sider di grup. Tahu-tahu, grup itu hilang wan-kawan. Setelah ditelisik, ternyata saya di kick dari grup. Kesalahan saya sangat sepele, saya tidak absen pada waktu yang telah ditentukan. Ternyata ada aturan soal keharusan absen ini. Dan saya memang sama sekali nggak pernah absen. “Beuh, disiplin bener ini grup!!”
Saya tidak tahu persis, kapan saya di kick dari grup. Saya baru sadar dalam jeda lumayan lama, sekitar awal tahun 2018. Waktu itu saya sudah nawaitu mau trading dengan EA. Tabungan saya sudah terkumpul, masih jauh dari modal minimum yang disarankan memang, tapi saya benar-benar penasaran dan siap dengan segala resiko. Dan tahu apa syarat untuk join member kali ini? Bayar $200! Byuh, duit segitu baru untuk biaya join membernya, saya masih harus sabar menabung (lagi) untuk ngumpulin modal agar bisa segera trading.
Untuk modal, bisa saja reques ke suami. Tapi itu tidak saya lakukan. Saya bertekat, tidak akan melibatkan beliau dalam rencana saya kali ini. Bukan apa-apa, saya akan merasa tertekan dan terbebani karena secara moril harus mempertanggung jawabkan modal yang beliau gelontorkan. Juga sebagai ajang pembuktian. Saya akan cerita hanya jika ini berhasil. Jika tidak berhasil, cukup saya dan Tuhan saja yang tahu haha…. 😅😅🤭
Iseng saya cerita ke teman, tentang rencana saya. Singkat cerita dia mendukung dan menggelontorkan dana pinjaman. Entah ini bisikan setan atau malaikat (semoga bisikan malaikat sih), saya langsung transfer $200 (hanya) saat itu juga untuk membership.
Orang cenderung meremehkan sesuatu yang berlabel gratis. Kita akan lebih menghargai sesuatu yang ada harganya. Semakin tinggi angka semakin tinggi penghargaan kita atasnya. Meskipun mindset ini mencerminkan ketidak-syukuran, tapi ada benernya juga sih, hahaha…. Dikasih gratis nyepelein, giliran suruh bayar ngomyang…(ngedumel-pen)
Agustus 2018 saya ikut workshop selama tiga hari. Ini bukan sesuatu yang mudah bagi seorang Ibu, dengan empat anak dimana dua anak yang kecil masih sangat tergantung pada ibunya dan belum pernah berpisah tidur dari ibunya. Selain menyiapkan si anak, juga harus membriefing pengganti saya selama saya tidak bersama mereka. Ini bagian paling drama.
Sepulang dari workshop, kami dikasih PR untuk meriset SOP yang sudah kami buat minimal 3 bulan di akun demo. Tapi saya NGEYEL. Saya langsung trading di akun live, dengan modal $100. Pada waktu itu, kebetulan ada promo modal 50$, saya tambahi $50 dari kantong sendiri. Hasilnya? Galau lagi saya, haha…. Saya merasa tidak ada bedanya sebelum dan setelah ikut workshop. Padahal selama workshop tiga hari, ada banyak poin-poin pencerahan yang saya dapat dan mempengaruhi mindset saya. Kenapa sampai rumah menjadi seperti nol lagi? Saya sempat down, tapi belum menyerah. Saya bertanya-tanya, kenapa orang-orang bisa, saya tidak? Padahal ini satu-satunya harapan yang saya jadikan tumpuan, BISA BEKERJA DENGAN TETAP MEMBERSAMAI ANAK-ANAK DI RUMAH.
November saya putuskan trading dengan EA dengan modal minimalis, jauh dari angka minimal yang disarankan memang. Tapi, saya sudah bertekat dan siap menanggung resiko. Misalpun trading dengan EA ini saya bangkrut, setidaknya penasaran saya terbayar. Pengalaman ini yang saya beli.
Fix, saya deposit $200. Admin GGTS sempat mengingatkan, dengan modal segitu nggak kerasa lho hasilnya, belum lagi ada biaya operasional seperti sewa VPS yang harus saya keluarkan. Saya jawab, nggak papa. Minggu pertama, karena rasa penasaran, saya pelototin tuh chart, ingin tahu EA itu seperti apa, cara kerja robotnya bagaimana. Ternyata bikin ngantuk, karena memang nggak setiap hari EA open transaksi. Satu bulan berlalu, equity bertumbuh sekitar 10%. Kecil sekali, bisa nutup biaya operasional sudah syukur banget. Tapi saya sadar diri, seperti yang dijelaskan dalam rule EA, modal minimal yang disarankan adalah $500 untuk akun micro atau $2000 untuk akun standart. Saya mengingatkan diri saya kembali, target kali ini adalah belajar. Ngilmu dulu. Jangan ngomongin laba dulu. Nggak rugi saja sudah bagus. Jangan kan paham cara kerja EA, teknis cara menggunakan EA yang super basic saja saya belum pernah dan ngga tahu. Secara saya gaptek dan pemula sekali. Saya hanya modal percaya. Percaya dengan yang membuat dan merekomendasikan EA.
Penasaran saya sedikit terobati, saya mulai “melupakan” EA dan membiarkan ia bekerja sendiri. Saya hanya menengok sesekali di jam-jam sesi open market. Saya kembali ke rutinitas semula. Momong anak, bakulan onlen sambil baca novel dan sesekali drakoran. 😄
Sekarang sudah Desember 2019, tak terasa sudah setahun saya menggunakan EA.
Secara KOIN, Ini bukan testimoni yang membanggakan jika dibanding teman-teman yang perolehan labanya ada yang mencapai 200% bahkan lebih dalam setahun. Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jika teman-teman lain rela ambil cuti dari pekerjaan dan meninggalkan keluarga demi ‘nyantri’ ke base camp berbulan-bulan untuk ngilmu, apalah saya yang hanya ndekem di rumah, dengan alibi tidak bisa bebas meninggalkan anak-anak. Ngilmu hanya mengandalkan diskusi grup. Modal juga jauh dari angka minimal.
Namun, bagi saya pribadi ini adalah rekor terpanjang dalam sejarah saya bertrading.
Modal bertahan selama itu, bahkan bertumbuh, operasional tertutupi adalah pencapaian yang luar biasa, yang membuat saya bersemangat dan optimis.
Secara POIN, saya belajar banyak dari trading EA selama setahun ini;
1. KEPERCAYAAN. Dalam kasus saya yang fakir ilmu, apalagi dengan pengalaman kegagalan di masa lalu (bawaannya nethink mulu). Meletakkan kepercayaan ini bukan soal mudah, butuh waktu dan banyak pertimbangan. Kepercayaan saya pada GGTS tidak tumbuh tiba-tiba. Secara maya saya mengenalnya dari tahun 2015. Dalam rentang waktu itu, hanya menerbitkan rasa penasaran saja. Baru Agustus 2018 kemarin, saya bertatap muka dengan owner, mendengar dan melihat sendiri kisah jatuh bangun beliau dalam dalam merintis bisnis forex ini, seperti apa tantangan dan rintangannya, hingga bisa survive seperti sekarang ini.
Dari sini mindset saya juga terbaharui, bahwa salah menganggap bisnis trading forex adalah jalan pintas untuk kaya dengan cepat dan mudah. Tradinh Forex sebagaimana bisnis yang lain, butuh perhitungan dan ilmu yang matang. Perlu menejemen yang terukur dan terencana. Bersyukur sekali, kami para member tinggal menikmati santapan “siap saji’ tanpa bersusah payah dan berdarah-darah seperti beliau.
2. KESABARAN. Kemana pun market bergerak, selama menejemen modal kita terukur (baca: ketahanan), insha allah tetap profit. Profit bukan berarti tanpa loss. Cut loss dan cut profit adalah keniscayaan. Item yang harus kita akrabi, karena kita tidak bisa menghindari keduanya. seperti apapun medan market yang kita hadapi, dengan ilmu dan kesabaran insha allah aman.
Kepercayaan dan kesabaran ini perlahan-lahan menumbuhkan mental positif. Mental positif inilah yang akan mementuk psikologis trading.
3. ILMU. Ini PR besar saya. Workshop 3 hari jauh dari kata cukup. Riset 3 bulan belum ada apa-apanya. Ketika saya mendengar bagaimana perjuangan ‘berdarah’ dan berlikunya kawan-kawan yang pencapaiannya ratusan persen, saya jadi malu untuk mengeluh. Dilihat dari usaha, saya belum ada seujung kukunya. Perjalanan saya masih jauh dan panjang. Hanya saja, sekarang saya lebih optimis dan percaya diri, perjalanan ini mulai mempunyai arah dan tujuan. Peta sudah ditangan, tinggal mengasah kemampuan membaca saja yang menjadi agenda saya berikutnya.
Terimakasih kepada pak Aep Kurnia Putra dan jajaran team GGTS, bersyukur sekali saya menjadi bagian keluarga besar GGTS, yang panjang sabar kalau menghadapi kegaptekan saya.
Terimakasih kawan-kawan komunitas GGTS, meski jarang nongol, saya mendapat banyak ilmu dari kisah-kisah kalian yang luar biasa inspiratif.
Kepada teman-teman di luar sana yang saat ini sedang mencari ‘arah’, bisnis forex bukan lagi bisnis yang menyeramkan selama kita belajar dan berproses dengan guru yang tepat.
Mengutip status seorang teman; “Wanita mandiri adalah dia yang siap menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Ada saat suami menghadapi kesulitan secara finansial, atau suami dipanggil Illahi, istri tidak oleng dan tegar berdiri demi buah hati… pun ketika suami pulang ke istri siri, istri bisa santai membuang koper suami sambil bilang, “titenonooo, sesuk kowe sing bakal rugiii…” 😅😅(dijiplak plek dari status IG temen 🤭)
Intinya, ambil setiap kesempatan untuk maju, jangan lelah belajar dan upgrade ilmu baru. Utamakan keluarga, niatkan ibadah, suami istri maju dan berkembang bersama.

kontribusi Member GGTS 

0 komentar :

Pages

Go Green Trading System

GGTS

Didirikan pada tanggal 16 maret tahun 2009, Oleh seorang trader yang bernama Aep Karunia Putra atau lebih dikenal dengan sebutan ayah Aep atau Ayah divadhafin, GGTS didirkan untuk membantu para trader Indonesia dalam mencapai tujuannya yaitu menjadi seorang trader mandiri yang bebas waktu dan bebas finansial.

ALAMAT

Alamat : Jl. Purwakarta III No 5 Antapani Bandung Jawabarat Indonesia
Phone : [+62] 812 2043 4308
Email : gogreentradingsystem@gmail.com
gogreentradingsystem@gmail.com

IKUTI KAMI